DENPASAR — Profesionalisme tidak hanya dibangun melalui pengalaman panjang di lapangan, tetapi juga melalui kompetensi, pendidikan, disiplin dan kemampuan mempertanggungjawabkan profesi yang dijalani. Prinsip tersebut menjadi bagian dari perjalanan CEO Elangbali, I Nyoman Sariana, yang akrab disapa Dede, dalam menekuni dunia media, keamanan, hingga olahraga bela diri Mixed Martial Arts (MMA).
Selain memimpin Elangbali, Dede juga berkecimpung sebagai wartawan dan Chief Security. Dalam bidang keamanan, ia memiliki Ijazah Gada Utama Nomor: IJ/898/V/2019, sementara dalam profesi jurnalistik Dede juga telah memiliki Sertifikat Kompetensi Wartawan Nomor: 30340-Unitomo/Wda/DP/VI/2025/19/12/79.
Dua kompetensi tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan profesionalnya. Dunia jurnalistik menuntut ketelitian, kemampuan komunikasi, keberanian menggali informasi dan tanggung jawab terhadap publik. Sementara dunia keamanan menuntut disiplin, kepemimpinan, kemampuan menganalisis risiko serta ketepatan dalam mengambil keputusan.
Di luar kedua bidang tersebut, Dede juga memiliki latar belakang sebagai pelatih MMA sekaligus petarung MMA di Han Academy Solo.
Perpaduan tiga bidang itu membentuk karakter yang menempatkan kemampuan fisik, mental, komunikasi dan kepemimpinan dalam satu prinsip: profesionalisme harus dapat dipertanggungjawabkan.
Gada Utama sebagai Bekal Chief Security
Menurut Dede, menjadi seorang Chief Security tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman lapangan, keberanian ataupun kemampuan bela diri.
Chief Security merupakan posisi dengan tanggung jawab manajerial. Ia harus mampu memimpin personel, mengidentifikasi potensi ancaman dan kerawanan, menyusun pola pengamanan, memastikan pelaksanaan standar operasional prosedur hingga mengambil keputusan dalam keadaan darurat.
Karena itulah kompetensi pada jenjang Gada Utama menjadi penting bagi seorang Chief Security.
“Chief Security bukan hanya kepala penjagaan. Ia adalah pemimpin dalam sistem pengamanan. Karena itu, seorang Chief Security harus memiliki kompetensi manajerial, memahami risiko, mampu membuat perencanaan pengamanan dan memiliki pendidikan Gada Utama sebagai bekal profesional,” ujar Dede.
Dalam sistem pendidikan dan pelatihan Satpam, Gada Utama merupakan jenjang untuk kemampuan tingkat manajer. Jenjang tersebut berada di atas Gada Pratama yang berorientasi pada kemampuan dasar dan Gada Madya untuk kemampuan tingkat penyelia.
Dede sendiri telah memiliki Ijazah Gada Utama Nomor IJ/898/V/2019.
Ia menilai ijazah maupun sertifikat tidak semestinya hanya menjadi kelengkapan administratif. Kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan harus mampu diterapkan ketika seseorang dipercaya memegang tanggung jawab di lapangan.
Gada Utama membekali kemampuan yang berkaitan dengan manajemen pengamanan, termasuk analisis risiko dan kerawanan, perencanaan serta SOP pengamanan, penanganan konflik dan kesiapan menghadapi kondisi darurat.
Dalam kerangka pembinaan pengamanan swakarsa Polri, Gada Utama merupakan pendidikan pada tingkat manajerial yang berada dalam sistem pembinaan Korbinmas Baharkam Polri. Pengukuhan lulusan Gada Utama dilaksanakan dalam kewenangan Kapolri yang didelegasikan kepada Kakorbinmas Baharkam Polri sesuai ketentuan yang berlaku.
Karena itu, menurut Dede, seorang Chief Security harus memahami bahwa semakin tinggi posisi dalam struktur keamanan, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul.
Wartawan Juga Harus Kompeten
Selain berkecimpung dalam bidang keamanan, Dede menjalankan profesi sebagai wartawan.
Dalam bidang jurnalistik, ia memiliki Sertifikat Kompetensi Wartawan Nomor 30340-Unitomo/Wda/DP/VI/2025/19/12/79.
Menurutnya, kompetensi menjadi hal penting dalam profesi wartawan karena pekerjaan jurnalistik berkaitan langsung dengan informasi yang diterima masyarakat.
Wartawan dituntut mampu melakukan verifikasi, konfirmasi, memahami etika jurnalistik serta membedakan antara fakta, opini dan tuduhan.
“Profesi apa pun membutuhkan kompetensi. Security memiliki standar dan pendidikan, begitu pula wartawan. Ketika kita menjalankan profesi, kita harus memahami tanggung jawab yang melekat di dalamnya,” kata Dede.
Bagi Dede, menjadi wartawan bukan sekadar memiliki kartu pers ataupun mampu menulis berita.
Jurnalis harus memahami Kode Etik Jurnalistik, melakukan konfirmasi kepada pihak terkait, menjaga keberimbangan pemberitaan serta memberikan ruang hak jawab ketika diperlukan.
Hal yang sama berlaku dalam bidang keamanan. Seragam atau jabatan Chief Security tidak otomatis membuat seseorang profesional apabila tidak dibarengi kemampuan dan tanggung jawab.
Dari Ruang Redaksi hingga Sistem Pengamanan
Menjalani profesi di bidang media sekaligus keamanan memberikan pengalaman berbeda bagi Dede.
Di dunia jurnalistik, ia harus terbiasa mendengar berbagai pihak sebelum mengambil kesimpulan. Informasi harus diperiksa, dikonfirmasi dan ditempatkan dalam konteks yang benar.
Sementara dalam dunia security, kemampuan membaca situasi juga sangat diperlukan.
Seorang Chief Security tidak boleh mengambil tindakan hanya berdasarkan asumsi. Ia harus mengetahui fakta di lapangan, mengidentifikasi risiko dan menentukan langkah sesuai tingkat ancaman.
Kesamaan itulah yang menurut Dede membuat kemampuan komunikasi sangat penting dalam sistem pengamanan modern.
Banyak konflik dapat dicegah apabila petugas keamanan memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
“Security tidak selalu menyelesaikan persoalan dengan fisik. Justru yang utama adalah pencegahan, komunikasi dan kemampuan mengendalikan situasi. Tindakan fisik bukan pilihan pertama dan setiap tindakan harus terukur serta sesuai aturan,” ujarnya.
MMA Membentuk Disiplin dan Mental
Di balik aktivitasnya sebagai CEO Elangbali, wartawan dan Chief Security, Dede memiliki pengalaman panjang dalam dunia olahraga bela diri.
Ia pernah menjadi pelatih MMA sekaligus petarung MMA di Han Academy Solo.
Bagi Dede, MMA bukan sekadar olahraga pertarungan.
Latihan MMA mengajarkan disiplin, konsistensi, strategi, ketahanan fisik, keberanian, kemampuan membaca pergerakan lawan serta pengendalian emosi ketika berada dalam tekanan.
Nilai-nilai tersebut kemudian turut diterapkan dalam menjalankan tugas keamanan.
Menurutnya, seorang petugas keamanan yang memiliki kemampuan bela diri justru harus memiliki pengendalian diri lebih baik.
Semakin besar kemampuan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab untuk tidak menyalahgunakannya.
“MMA mengajarkan bahwa kita tidak boleh hanya mengandalkan tenaga. Ada teknik, strategi, timing dan kontrol. Dalam security juga begitu. Kita harus mengetahui kapan harus bertindak, bagaimana bertindak dan kapan harus mengedepankan komunikasi,” jelasnya.
Bagi seorang Chief Security, kemampuan mengendalikan diri menjadi sangat penting karena dirinya juga bertanggung jawab mengendalikan anggota.
Ketika situasi memanas, Chief Security harus menjadi orang yang mampu berpikir jernih.
Ia tidak boleh ikut terpancing provokasi.
Chief Security Bukan Petarung
Meski memiliki latar belakang sebagai petarung MMA, Dede menegaskan pekerjaan security tidak identik dengan perkelahian atau tindakan kekerasan.
Tujuan utama pengamanan adalah mencegah terjadinya gangguan dan menciptakan rasa aman.
Chief Security yang profesional justru dinilai berhasil ketika mampu membuat sistem pengamanan berjalan sehingga konflik dapat dicegah sebelum terjadi.
“Chief Security bukan petarung yang mencari lawan. Tugas Chief Security adalah membangun sistem, memimpin anggota dan memastikan lingkungan tetap aman. Kalau persoalan dapat dicegah tanpa terjadi benturan, justru itulah keberhasilan pengamanan,” tegas Dede.
Menurutnya, kemampuan fisik dan bela diri tetap penting sebagai pendukung. Namun kemampuan tersebut harus berada di bawah kendali profesionalisme, aturan dan kewenangan.
Chief Security juga harus mampu memahami batas kewenangan personel keamanan dan mengetahui kapan sebuah peristiwa membutuhkan koordinasi dengan aparat penegak hukum.
Pemimpin Harus Memberikan Contoh
Bagi Dede, salah satu tantangan terbesar seorang Chief Security adalah memimpin manusia.
Setiap anggota memiliki karakter, pengalaman dan kemampuan berbeda. Karena itu, seorang pemimpin harus mampu membangun disiplin sekaligus kekompakan.
Chief Security tidak cukup hanya memberikan perintah.
Ia harus memberikan contoh.
“Kalau seorang Chief Security meminta anggota datang tepat waktu, dirinya harus lebih disiplin. Kalau meminta anggota menjaga sikap, pemimpinnya juga harus memberikan contoh. Kepemimpinan tidak cukup dengan perintah, tetapi harus dibuktikan melalui tindakan,” katanya.
Prinsip tersebut juga diterapkannya dalam memimpin Elangbali.
Menurut Dede, baik memimpin organisasi media maupun personel keamanan membutuhkan kepercayaan, komunikasi, disiplin serta pembagian tanggung jawab yang jelas.
Tiga Dunia, Satu Prinsip Profesionalisme
Perjalanan Nyoman Sariana “Dede” mempertemukan tiga bidang dengan karakter yang berbeda: media, security dan MMA.
Sebagai CEO Elangbali dan wartawan, ia dituntut memahami komunikasi, informasi dan tanggung jawab jurnalistik.
Sebagai Chief Security dengan Ijazah Gada Utama Nomor IJ/898/V/2019, ia dituntut memiliki kemampuan kepemimpinan serta manajemen keamanan.
Sementara pengalaman sebagai pelatih dan petarung MMA di Han Academy Solo membentuk kedisiplinan, mentalitas, strategi serta pengendalian diri.
Menurut Dede, seluruh pengalaman tersebut tidak boleh menjadi sekadar deretan titel.
Kompetensi baru memiliki arti apabila diwujudkan melalui tindakan dan tanggung jawab.
“Sertifikat dan ijazah adalah bukti bahwa kita pernah mengikuti proses kompetensi. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana ilmu tersebut diterapkan. Chief Security harus profesional, wartawan harus profesional, dan seorang petarung juga harus memiliki disiplin serta kontrol diri,” ujarnya.
Dede menegaskan bahwa seorang Chief Security idealnya memiliki kompetensi Gada Utama, terutama karena posisi tersebut membawa tanggung jawab manajerial terhadap sistem dan personel pengamanan.
Bagi dirinya, pengalaman lapangan, kemampuan bela diri dan keberanian merupakan modal. Namun semuanya harus diperkuat oleh pendidikan, kompetensi, pemahaman aturan dan integritas.
“Kekuatan tanpa kontrol bisa menjadi masalah. Jabatan tanpa kompetensi juga tidak cukup. Seorang Chief Security harus mampu memimpin, mencegah gangguan dan memberikan rasa aman secara profesional. Karena itu Gada Utama menjadi bekal penting bagi mereka yang memegang tanggung jawab manajerial dalam pengamanan,” pungkas Dede.
Dengan latar belakang sebagai CEO Elangbali, wartawan bersertifikat kompetensi, Chief Security pemegang Ijazah Gada Utama, serta pelatih dan petarung MMA, Nyoman Sariana “Dede” menempatkan kompetensi sebagai bagian penting dalam perjalanan profesinya.
Semua itu berpijak pada prinsip yang menjadi identitas Elangbali: Profesional – Loyalitas – Integritas.
( Angga )







