kisah Dokter Aditya Pasang Tarif Klinik Seikhlasnya, Warga Tak Mampu Kadang Bayar Menggunakan Sayuran, Bahkan Ada Yang Bayar Pakai Doa

JAKARTA TIMUR, ELANGBALI.COM – Di tengah realitas pahit mahalnya biaya berobat yang membuat banyak orang memilih menahan rasa sakit daripada mendatangi dokter—sebuah kisah kemanusiaan yang begitu hangat hadir dari sudut Jakarta Timur. Kisah yang bukan hanya menyentuh hati, tetapi membakar kembali keyakinan bahwa dunia medis masih menyimpan jiwa-jiwa mulia.

Adalah dr. Sukma Aditya Putra, atau yang akrab dipanggil dr. Aditya, dokter muda yang memilih berjalan di jalan sunyi pengabdian. Di sebuah bangunan sederhana bernama Klinik Aditya Medika, yang berdiri sejak 2022 di Jalan Pagelarang, RW 3, Kelurahan Lubang Buaya, Cipayung, ia menerapkan konsep pelayanan yang tidak hanya unik, tetapi juga penuh cinta: pasien boleh membayar seikhlasnya, bahkan cukup dengan doa jika tak memiliki uang satu rupiah pun.

Bacaan Lainnya

Dalam suasana klinik yang hangat dan sederhana, dr. Aditya menyampaikan kalimat yang membuat siapa pun tersentuh:

“Saya hanya ingin membantu masyarakat agar tidak takut datang ke dokter hanya karena tidak punya uang. Kalau belum mampu, cukup doakan saja. Itu sudah cukup bagi saya.”

Kalimat itu bukan sekadar ucapan, tetapi napas dari sebuah misi kemanusiaan yang ia yakini. Saat banyak layanan kesehatan sibuk mengatur tarif, menghitung biaya, dan menetapkan standar pembiayaan, dr. Aditya memilih jalur sebaliknya—jalur yang nyaris punah di tengah komersialisasi dunia medis: jalur keikhlasan dan cinta kasih.

Meski menerapkan sistem “bayar seikhlasnya”, tanggung jawab yang dipikulnya tidak menjadi ringan. Ia tetap menjaga standar pelayanan medis, menyediakan obat-obatan terbaik yang mampu ia hadirkan, serta memastikan pasien mendapatkan pemeriksaan layak seperti klinik pada umumnya. Tidak ada patokan tarif. Hanya sebuah kotak amal, tempat pasien dengan peluh, syukur, atau doa menitipkan balasan atas kebaikan yang mereka terima.

“Ada pasien yang bayar lima ribu, ada yang lima puluh ribu. Ada juga yang hanya tersenyum sambil mendoakan saya. Semua saya terima dengan ikhlas,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Cerita menyentuh lainnya bermunculan. Warga yang dulu takut berobat kini datang tanpa canggung. Ibu-ibu membawa hasil kebun sebagai tanda terima kasih. Ada yang datang membawa pisang, singkong, bahkan sepiring nasi hangat. Bukan nominal yang penting, tetapi ketulusan yang menyertai setiap pemberian.

Di tengah hiruk pikuk kota dan dunia kesehatan yang semakin mahal, dr. Aditya berdiri sebagai pelita—mengingatkan bahwa profesi dokter bukan hanya soal ilmu, tetapi soal hati. Bahwa di balik stetoskop yang dingin, masih ada kehangatan manusia yang memilih peduli. Bahwa harapan itu, bagaimanapun kecilnya, tetap bisa tumbuh dari kebaikan seorang anak bangsa yang rela memberi tanpa mengharap apa pun kembali.

( dede99 )

Pos terkait