SAMARINDA, ELANGBALI.COM – Di antara hiruk pikuk pelabuhan, di mana suara kapal, truk, dan buruh silih berganti memecah pagi, ada satu sudut yang menawarkan ketenangan dan harapan. Di halaman Kantor KP3 Pelabuhan Samarinda, belasan anak duduk bersila di atas tikar plastik, mengeja huruf demi huruf dari papan tulis kecil.
Di depan mereka berdiri seorang pria berseragam cokelat, dengan senyum hangat dan sabar yang tak pernah lekang — dialah Aipda Solik (42), anggota polisi KP3 Pelabuhan Samarinda yang memilih menghabiskan waktu luangnya untuk mengajar anak-anak buruh dan pedagang kecil di sekitar pelabuhan.
“Yang penting mereka bisa baca dulu. Rambut mau gondrong, mau gundul, enggak apa-apa. Bisa baca itu sudah hebat,” ujarnya sambil tersenyum sederhana.
Sejak tahun 2016, Aipda Solik memulai kelas belajar gratis di halaman kantor tempatnya bertugas. Setiap Rabu dan Kamis pagi, dari pukul 09.00 hingga 10.30 Wita, halaman kantor polisi berubah menjadi ruang kelas kecil yang penuh tawa, coretan, dan semangat belajar.
Awal mula ide itu lahir dari keprihatinan. Ia sering melihat anak-anak bermain di area pelabuhan yang berbahaya, bahkan beberapa di antaranya menjadi korban tenggelam. Dari sanalah muncul tekad untuk melakukan sesuatu bukan dengan kekuasaan, tapi dengan kepedulian dan kasih sayang.
“Saya lihat banyak anak-anak buruh dan pedagang yang enggak sekolah. Mereka main di pelabuhan dari pagi sampai sore. Saya pikir, kalau enggak ada yang peduli, nanti mereka tumbuh tanpa arah,” kenangnya.
Berbekal papan tulis kecil, buku bekas, dan pensil pendek, Aipda Solik memulai pengabdian kecilnya. Di awal hanya ada tujuh anak, kini jumlahnya sudah lebih dari tiga puluh. Dari yang awalnya datang karena iming-iming permen, kini mereka datang dengan semangat belajar sendiri.
Kelas sederhana itu tak punya meja atau kursi. Tak ada kipas, tak ada pendingin ruangan. Namun di bawah atap sederhana, diiringi suara kapal dan klakson truk, semangat anak-anak itu tak pernah padam.
Di tengah tugasnya sebagai penegak hukum, Aipda Solik menunjukkan sisi lain dari arti “mengayomi dan melindungi” — bukan hanya masyarakat, tapi juga masa depan anak-anak kecil di pinggir pelabuhan.
Dengan langkah sederhana dan hati tulus, ia membuktikan bahwa seragam cokelat tak hanya tegas di jalan, tapi juga hangat di hati. Sosok Aipda Solik mengajarkan kita bahwa pengabdian tak selalu tentang pangkat dan jabatan, melainkan tentang kemanusiaan yang tak kenal batas waktu dan tempat.
Di tengah deru kapal dan debu pelabuhan, Aipda Solik menyalakan lilin kecil pendidikan dan dari sinar kecil itu, lahir harapan besar bagi masa depan anak-anak Samarinda.
( dede99 )







