DENPASAR, ELANGBALI.COM – Insiden mengejutkan terjadi di restoran Ta Wan, Level 21 Mall Denpasar, pada Kamis (6/11/2025). Seorang ibu rumah tangga asal Denpasar, Ni Putu Oka Rafintha Dewi (27), nyaris kehilangan nyawa setelah meminum cairan pemutih yang dikira air mineral.
Peristiwa bermula ketika Oka datang bersama bayinya yang baru berusia delapan bulan untuk makan siang. Karena kehausan, ia langsung meminum air dari botol yang disajikan di meja tanpa curiga. Namun beberapa detik kemudian, rasa panas dan perih menyeruak di tenggorokannya. Cairan itu ternyata bukan air mineral, melainkan cairan pembersih atau pemutih.
“Korban spontan memuntahkan cairan itu, bahkan celana anaknya yang terkena muntahan langsung berubah warna jadi putih,” ungkap Eward Tobing, kuasa hukum korban.
Oka langsung dilarikan ke RS Bhayangkara Denpasar untuk menjalani pemeriksaan medis. Pengacara korban menyebut bahwa pihak manajemen restoran lamban dan tidak menunjukkan tanggung jawab serius.
“Manajemen malah menunda penyelesaian hingga minggu depan, bahkan sempat menawarkan makanan dan minuman gratis sebagai kompensasi. Ini bukan soal makanan gratis, ini soal nyawa manusia,” tegas Edward dengan nada kecewa.
Ia menegaskan akan melaporkan kasus ini ke Polda Bali dengan dugaan kelalaian yang membahayakan keselamatan konsumen, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, serta potensi pelanggaran Pasal 360 KUHP tentang kelalaian yang mengakibatkan luka berat atau ancaman terhadap nyawa.
Sementara itu, Supervisor Outlet Ta Wan Level 21, Hartadi Sosiawan, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengaku bahwa botol berisi cairan pemutih memang milik salah satu karyawati yang berinisial Y, dan tertinggal di area restoran semalam sebelumnya.
“Awalnya itu botol kosong diisi cairan pembersih. Rencananya mau dibawa pulang, tapi karyawan kami lupa. Paginya sudah ada di area tempat minuman, dan tanpa disadari ikut tersaji ke pelanggan,” terang Hartadi.
Manajemen restoran kini tengah memeriksa rekaman CCTV untuk memastikan siapa yang bertanggung jawab menaruh botol berisi bahan kimia berbahaya itu di area pelayanan makanan. Namun publik menilai, peristiwa ini menunjukkan lemahnya standar keamanan dan pengawasan di restoran besar, yang seharusnya mematuhi ketat protokol keamanan pangan dan kesehatan publik.
Insiden ini menambah daftar panjang kelalaian fatal di sektor kuliner yang seharusnya menjunjung tinggi keamanan dan keselamatan konsumen.
Kini, publik menanti langkah tegas aparat penegak hukum apakah kasus ini hanya akan berhenti di “permintaan maaf”, atau benar-benar diproses sebagai tindak pidana kelalaian serius yang hampir merenggut nyawa seorang ibu muda dan bayinya.
( dede99 )







