Foto : Ist – Anggota DPRD Provinsi Bali, I Wayan Bawa.
Denpasar – Pernyataan tegas datang dari anggota DPRD Provinsi Bali, I Wayan Bawa, yang secara terbuka menyuarakan pembelaannya terhadap upaya menjaga taksu dan kesakralan Hari Suci Nyepi di Pulau Dewata. Melalui pernyataan yang disampaikan di media sosial, Wayan Bawa menegaskan bahwa tradisi dan nilai-nilai spiritual Bali tidak boleh dikompromikan oleh kepentingan apa pun.
Dalam komentarnya di akun Facebook, Wayan Bawa menyampaikan sikap yang sangat jelas dan tanpa kompromi. Ia menegaskan bahwa Bali memiliki identitas budaya dan spiritual yang harus dihormati oleh siapa pun yang hidup di dalamnya.
“INI TANAH BALI. SIAPA YANG NUMPANG HIDUP DI BALI HARUS MENGHORMATI KESAKRALAN TRADISI ORANG BALI. BALI JANGAN MAU TUNDUK TERUS SAMA PEMERINTAH PUSAT. SAYA SEPENDAPAT DENGAN BPK SUDIBYA. KITA HARUS BERSUARA KERAS UNTUK MEMBELA KEHORMATAN KITA SEBAGAI ORANG BALI,” tulisnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan kegelisahan sebagian masyarakat Bali terhadap berbagai dinamika yang dinilai berpotensi menggerus nilai-nilai adat dan kesucian tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. Nyepi bukan sekadar hari libur keagamaan, melainkan momentum sakral yang sarat makna spiritual bagi umat Hindu Bali. Dalam Hari Suci Nyepi, seluruh aktivitas dihentikan sebagai bentuk perenungan, penyucian diri, serta harmonisasi antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Bagi masyarakat Bali, menjaga taksu Nyepi berarti menjaga marwah budaya, adat, dan spiritualitas yang menjadi fondasi kehidupan sosial di pulau ini. Oleh karena itu, Wayan Bawa menilai setiap pihak yang tinggal, bekerja, maupun mencari kehidupan di Bali wajib memahami serta menghormati nilai-nilai tersebut.
Sikap lantang Wayan Bawa juga menjadi bentuk solidaritas terhadap pandangan yang sebelumnya disampaikan oleh Sudibya, yang menyerukan pentingnya masyarakat Bali bersatu dalam mempertahankan kehormatan adat dan tradisi di tengah arus modernisasi dan kebijakan yang terkadang dianggap kurang sensitif terhadap kearifan lokal.
Polemik yang muncul menjelang pelaksanaan Hari Suci Nyepi belakangan ini memang memicu berbagai respons dari tokoh masyarakat, politisi, hingga kalangan adat. Banyak pihak menilai bahwa Bali sebagai daerah dengan kekhususan budaya harus diberikan ruang yang cukup untuk menjaga tradisi sakralnya tanpa intervensi yang dapat mereduksi nilai-nilai tersebut.
Wayan Bawa menegaskan bahwa menjaga kesucian Nyepi bukan semata urusan umat Hindu, melainkan bagian dari identitas Bali yang telah dikenal dunia. Bahkan, tradisi Nyepi selama ini menjadi simbol toleransi, kedamaian, dan harmoni yang justru mendapat apresiasi luas dari masyarakat internasional.
Karena itu, menurutnya, keberanian bersuara menjadi penting agar Bali tidak kehilangan jati diri di tengah tekanan berbagai kepentingan. Ia mengingatkan bahwa pembangunan dan modernisasi tidak boleh mengorbankan akar budaya yang menjadi roh kehidupan masyarakat Bali.
“Kalau kita sendiri tidak berani menjaga kehormatan tradisi kita, siapa lagi?” demikian kira-kira pesan kuat yang tersirat dari pernyataan anggota DPRD Bali tersebut.
Seruan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah arus globalisasi dan dinamika kebijakan nasional, masyarakat Bali tetap memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan dan pelestarian warisan budaya leluhur. Nyepi bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga simbol kedaulatan budaya Bali yang harus dijaga bersama.
( dd99 )







