“Indahnya Bali! Pecalang Sakera Semeton Muslim Turun Tangan Amankan Galungan di Bajera”

TABANAN, ELANGBALI.COM – Bali kembali menunjukkan wajah terbaiknya melalui harmoni yang nyata, bukan sekadar kata-kata. Di Desa Adat Bajera, Selemadeg, Tabanan, suasana Hari Raya Galungan pada Rabu (19/11) menjadi panggung bagi nilai toleransi yang begitu kuat mengakar dalam keseharian masyarakat setempat.

Saat umat Hindu melaksanakan persembahyangan Galungan—sebuah hari suci untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma—deretan pecalang menjaga kelancaran prosesi seperti biasanya. Namun ada yang berbeda di Bajera. Di antara barisan penjaga keamanan, tampak Pecalang Sakera, semeton muslim dari lingkungan yang sama, turut terlibat langsung menjaga ketertiban dan kenyamanan jalannya ibadah.

Pemandangan itu bukan hal baru bagi masyarakat Bajera, tapi tetap menjadi sesuatu yang menggetarkan hati. Ketika banyak wilayah di luar sana sedang dipenuhi isu perpecahan, konflik identitas, dan sentimen SARA, Bajera hadir seperti oase yang mengingatkan bahwa Indonesia sejatinya dibangun di atas keberagaman. Kehadiran semeton muslim yang ngayah sebagai pecalang adalah bukti bahwa toleransi bukan sekadar wacana, tetapi praktik hidup yang diwariskan dan dijalankan tanpa ragu.

Pecalang Sakera hadir bukan karena tuntutan formal atau undangan seremonial. Mereka hadir karena rasa memiliki, rasa persaudaraan, dan komitmen untuk menjaga desa tempat mereka hidup berdampingan. Mereka mengawal lalu lintas, membantu umat yang hendak masuk ke area persembahyangan, hingga memastikan rangkaian Galungan berlangsung lancar dan khusyuk. Semua dilakukan dengan senyum, tanpa pamrih, dan tanpa batas agama.

Interaksi itu memperlihatkan bahwa makna Galungan—kemenangan kebenaran atas ketidakbaikan—bukan hanya tercermin dalam ritual umat Hindu, tetapi juga dalam tindakan nyata semua warga desa yang menjaga harmoni. Di Bajera, dharma hidup melalui toleransi, penghormatan, dan kebersamaan.

Masyarakat adat setempat pun menyambut kehadiran Pecalang Sakera sebagai bagian tak terpisahkan dari keluarga besar desa. Tidak ada tembok pemisah. Yang ada justru nilai saling percaya dan kesadaran bahwa keamanan, kenyamanan, serta kedamaian adalah tanggung jawab bersama, apa pun latar belakang keyakinannya.

Momen seperti inilah yang seharusnya lebih sering disuarakan. Di tengah riuhnya informasi negatif di media sosial, Bajera menghadirkan cerita yang menyejukkan. Cerita yang mengingatkan kita bahwa kerukunan bisa tumbuh ketika semua pihak rela membuka hati, menjaga adat, dan menghormati perbedaan.

Bali kuat bukan karena seragam. Bali kuat karena keberagamannya mampu dirajut menjadi satu jaringan kebersamaan yang kokoh. Dan hari itu, di Bajera, kekuatan itu terlihat jelas—dalam langkah para pecalang, dalam senyum semeton muslim, dan dalam heningnya doa Galungan yang dijaga oleh tangan-tangan lintas keyakinan.

Inilah Bali yang sebenarnya. Bali yang damai, menyatu, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Bali yang menjadikan toleransi bukan hanya ucapan, tetapi tindakan yang hidup dalam keseharian masyarakatnya.

( dede99 )

Pos terkait