UBUD, ELANGBALI.COM – Langit sore di Desa Ubud, Kabupaten Gianyar , Minggu (15/2/2026), tampak biasa saja. Tak ada hujan lebat, tak ada angin kencang yang meraung. Namun sekitar pukul 16.30 WITA, sebuah saksi bisu sejarah justru roboh ke tanah. Pohon beringin tua yang berdiri kokoh di halaman tumbang—bukan sekadar pohon yang jatuh, tetapi sepotong sejarah yang rebah.
Beringin yang diperkirakan telah berusia 300 tahun itu selama ini diyakini sebagai cikal bakal perkembangan Ubud. Akarnya bukan hanya mencengkeram tanah, tetapi juga menyatu dengan perjalanan panjang desa adat, puri, dan masyarakatnya. Ia telah menyaksikan generasi demi generasi lahir, tumbuh, dan menjaga warisan budaya yang kini dikenal dunia.
Pengelingsir Puri Kantor Ubud, , mengungkapkan bahwa saat kejadian tidak ada tanda-tanda cuaca ekstrem. “Kalau orang Bali bilang, tidak ada hujan tidak ada angin. Pohon beringin rebah dua kali. Pertama ke sisi selatan dan kedua ke sisi utara,” ujarnya. Pernyataan itu menambah kesan magis dan getir atas peristiwa tersebut.
Sehari sebelumnya memang sempat terjadi angin kencang. Diduga, hempasan angin itu telah melemahkan batang dan akar sang beringin tua. Namun siapa yang menyangka, sehari setelahnya, dalam suasana yang tampak tenang, pohon bersejarah itu akhirnya menyerah pada usia dan alam.
Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa ini. Batang besar yang tumbang memang menimpa sejumlah bangunan, baik ke arah selatan menuju jalan raya maupun ke sisi utara halaman puri. Tetapi bagi keluarga besar puri dan masyarakat Ubud, kehilangan ini jauh melampaui kerusakan fisik.
“Kami semua bersedih, bukan karena bangunan yang tertimpa. Tapi beringin merupakan cikal bakal sejarah Ubud,” ungkapnya dengan nada duka.
Beringin dalam tradisi Bali bukan sekadar pohon. Ia simbol perlindungan, peneduh, dan pusat energi spiritual. Di banyak desa, beringin menjadi penanda ruang sakral dan titik awal kehidupan sosial masyarakat. Tumbangnya beringin di halaman Puri Kantor Ubud bukan hanya kehilangan vegetasi tua, melainkan juga kehilangan simbol yang selama tiga abad menjadi penjaga sunyi perjalanan Ubud.
Ke depan, keluarga besar puri akan menggelar paruman untuk menyikapi peristiwa ini. Apakah akan dilakukan upacara khusus, penanaman kembali, atau langkah-langkah lain sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.
Yang pasti, Minggu sore itu akan tercatat sebagai hari ketika salah satu penanda sejarah Ubud runtuh. Namun sejarah tidak benar-benar hilang. Ia tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakatnya—dalam cerita, dalam ritual, dan dalam semangat menjaga warisan yang tersisa.
( dd99 )







