KARANGANYAR, ELANGBALI.COM – Merayakan Hari Raya Galungan selalu menjadi momen suci bagi umat Hindu untuk meneguhkan kembali kemenangan dharma—kebaikan, kebenaran, dan cahaya—atas adharma, yakni keburukan dan kegelapan batin. Namun, ketika Galungan diperingati di Candi Cetho, aura kesakralannya terasa berbeda. Pada kompleks candi yang berdiri anggun di lereng Gunung Lawu ini, suasana spiritual yang kental berpadu dengan kesederhanaan ritual, menciptakan pengalaman religius yang lembut namun begitu mendalam.
Galungan di Candi Cetho bukan sekadar ritual keagamaan. Ia menyerupai perjalanan batin untuk kembali menemukan terang dalam diri. Dengan arsitektur punden berundak dan udara pegunungan yang sejuk, Candi Cetho menghadirkan ruang kontemplatif bagi siapa pun yang datang. Di sinilah umat Hindu meresapi makna terdalam Galungan: bahwa perjuangan melawan adharma tidak hanya terjadi di luar diri, tetapi juga di dalam pikiran, hati, dan tindakan sehari-hari.
Filosofi dan Makna Galungan di Candi Cetho
- Kemenangan Dharma atas Adharma
Inti utama Galungan adalah kemenangan dharma. Di Candi Cetho, pesan ini terasa semakin kuat karena lingkungan candi yang sederhana dan sunyi mengajak umat untuk menelusuri batin masing-masing. Kebaikan harus terus diperjuangkan, sementara sifat buruk—kemarahan, keserakahan, dan ketamakan—harus dikendalikan dan dilenyapkan. Galungan menjadi pengingat bahwa cahaya tidak akan pernah padam selama manusia merawatnya dengan perbuatan baik. - Menyatukan Kekuatan Rohani
Ketenangan yang menyelimuti Candi Cetho mendorong umat untuk menyatukan kekuatan rohani. Pikiran yang kacau dianggap sebagai wujud adharma yang harus ditaklukkan. Melalui persembahyangan, umat memohon kejernihan pikiran, keteguhan hati, dan kemampuan untuk selalu memilih jalan kebenaran. Di sinilah Galungan menjadi momentum penyucian batin. - Rasa Syukur atas Penciptaan
Di tengah hamparan alam yang lestari, umat Hindu menyampaikan rasa syukur mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah kehidupan, alam semesta, dan segala isinya. Candi Cetho menjadi ruang yang ideal untuk merenungkan keagungan ciptaan, sekaligus mengingatkan bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari keseluruhan ciptaan-Nya. - Harmoni Parahyangan, Palemahan, dan Pawongan
Candi Cetho mengajarkan keterhubungan antara manusia dengan Tuhan (parahyangan), manusia dengan alam (palemahan), dan manusia dengan sesama (pawongan). Perayaan Galungan di sini memperkuat semua aspek itu sekaligus—sebuah refleksi bahwa kemenangan dharma hanya utuh ketika hidup manusia harmonis dengan lingkungan dan sesamanya.
Bentuk Perayaan Galungan di Candi Cetho
Ritual Sederhana Bernuansa Kekeluargaan
Berbeda dengan kemeriahan Galungan di Bali, persembahyangan di Candi Cetho berlangsung lebih sederhana. Namun, kesederhanaan inilah yang justru menonjolkan sisi spiritual perayaan. Semua umat datang dengan hati yang tulus, tanpa hiruk-pikuk, tanpa kemegahan berlebihan. Kehangatan dan rasa kebersamaan begitu terasa.
Tradisi Kenduri sebagai Simbol Kebersamaan
Usai sembahyang, umat berkumpul dalam acara makan bersama atau kenduri. Makanan yang dibawa sejak rumah disatukan dan dinikmati bersama, melambangkan kebersamaan dan rasa syukur. Tidak ada perbedaan kasta atau kedudukan; semua duduk sejajar menikmati anugerah.
Pemasangan Penjor yang Simbolis
Penjor tetap dipasang sebagai simbol kemenangan dan kemakmuran, meski bentuknya lebih sederhana dibanding Bali. Penjor di Candi Cetho melambangkan ulu–tetumbasan, perjalanan kehidupan, dan rasa syukur umat terhadap rahmat Tuhan.
Silsilah dan Sejarah Candi Cetho
Candi Cetho bukan hanya tempat sembahyang—ia adalah saksi bisu perjalanan panjang spiritual dan budaya Nusantara. Dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit, sekitar tahun 1452–1470 M, candi ini berada di bawah pemerintahan Prabu Brawijaya V. Tujuan pembangunannya adalah sebagai tempat ritual tolak bala dan ruwatan, yang terbukti melalui relief dan aksara Jawa kuno pada bangunan-bangunannya.
Keunikan lainnya, meski Majapahit secara resmi memeluk Buddha, Candi Cetho dibangun dengan corak Hindu. Ini menunjukkan tingginya nilai toleransi beragama pada masa itu—sebuah warisan yang patut dijaga hingga kini.
Candi ini ditemukan kembali pada tahun 1842 oleh arkeolog Belanda Van der Vlies, kemudian diteliti oleh tokoh-tokoh besar arkeologi seperti K.C. Crucq, N.J. Krom, W.F. Sutterheim, hingga A.J. Bernet Kempers. Pemugaran besar-besaran dilakukan pada akhir 1970-an, menghasilkan bentuk kompleks candi sebagaimana terlihat hari ini.
Arsitektur Punden Berundak yang Sarat Makna
Candi Cetho terdiri dari 14 teras bertingkat, mengikuti gaya arsitektur punden berundak yang menggambarkan perjalanan spiritual manusia menuju kesempurnaan. Setiap tingkatan memiliki makna filosofis tersendiri—dari dunia bawah, dunia tengah, hingga dunia atas.
Melalui perjalanan menaiki setiap teras, umat diajak merenungi perjalanan hidup: bahwa manusia harus terus naik, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Perayaan Galungan di Candi Cetho adalah perpaduan antara sejarah, spiritualitas, dan kehidupan yang penuh makna. Pada punden berundak yang menghadap cakrawala, umat Hindu menemukan ruang untuk meneguhkan kemenangan dharma dalam diri, memperkuat rasa syukur, dan menjaga harmoni dengan sesama serta alam semesta.
Di tempat suci yang dibangun ratusan tahun lalu ini, cahaya dharma terus hidup—menjadi penuntun bagi generasi yang datang, dan simbol bahwa kebaikan akan selalu menang, selama manusia merawatnya dalam hati dan tindakan.
( dede99 )







