Viral! Imbauan PLN Soal Jarak Aman Penjor Picu Pro-Kontra: Tradisi Bali vs Kabel Semrawut

Foto : Ist – Manajer PT PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Bali Utara, Elashinta.

Bacaan Lainnya

DENPASAR, ELANGBALI.COM – Menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, jagat maya dibuat riuh oleh imbauan UPT PLN Bali Nusra yang meminta masyarakat menjaga jarak aman penjor minimal 2,5 meter dari kabel listrik. Seolah sederhana, namun anjuran ini langsung memantik pro dan kontra—bahkan jadi perdebatan panas di media sosial.

Di satu sisi, penjor bukan sekadar hiasan. Ia adalah simbol kemenangan dharma atas adharma, lambang syukur umat Hindu Bali, dan identitas budaya yang sudah hidup turun-temurun. Tinggi, melengkung, penuh makna estetika dan spiritual. Namun tiba-tiba, keberadaannya harus “mengalah” pada jaringan kabel yang kian padat dan semrawut di depan rumah warga.

Masalahnya bukan hanya jarak. Jika aturan 2,5 meter diterapkan, sementara tinggi kabel rata-rata hanya sekitar 5 meter, maka penjor praktis tak bisa dibuat tinggi sebagaimana tradisi idealnya. Sebuah ironi: budaya luhur Bali dipaksa menyesuaikan infrastruktur yang justru terlihat tidak tertata.

Lebih miris lagi, bukan hanya kabel listrik yang melintang. Kabel wifi, internet, dan jaringan-jaringan lain membuat tampilan kota terasa seperti “hutan kabel.” Teknologi maju, tetapi sistem penataan justru seperti mundur ke masa lalu.

Meski begitu, imbauan PLN bukan tanpa alasan. Manajer PT PLN UP3 Bali Utara, Elashinta, menegaskan bahwa jarak aman minimal 2,5 meter—idealnya 3 meter—dibutuhkan untuk mencegah risiko sengatan listrik, kebakaran, dan pemadaman akibat penjor tersentuh kabel ketika tertiup angin atau hujan. Sejumlah insiden sebelumnya memang sempat terjadi karena pemasangan penjor yang terlalu dekat dengan jaringan bertegangan tinggi.

“Jarak aman itu bukan untuk membatasi budaya, tapi untuk keselamatan bersama,” jelas Elashinta. Ia juga mengingatkan bahwa ranting pohon pun bisa memicu gangguan listrik jika tersentuh kabel, apalagi instalasi penjor yang berukuran besar.

PLN berharap masyarakat tetap memperhatikan aturan keselamatan demi menjaga kelancaran listrik selama momen suci Galungan dan Kuningan.

Namun kini pertanyaan besarnya muncul:
Haruskah penjor menyesuaikan kabel—atau justru kabel yang harus ditata ulang agar tidak mengganggu simbol budaya Bali?

Perdebatan ini masih terus bergulir. Yang jelas, masyarakat Bali berharap ada solusi yang tidak mengorbankan budaya maupun keselamatan.

( dede99 )

Pos terkait